Senin, 26 Januari 2015

RANCANGAN BANGUN ALAT TANGKAP TRAMEL NETT

TUGAS AKIR SEMESTER
RANCANG BANGUN ALAT TANGKAP
TRAMMEL NET











oleh :
ISMAIL TUEN LAMBALAWA
NIM : 2011.02.5.0008


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014



Kata Pengantar

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan Rahmat serta Hidayah-Nya dan tidak lupa sholawat serta salam penyusun haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penyusun makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah  ini disusun berdasarkan untuk melengkapi tugas Rancang Bangun Alat Tangkap tentang “Trammel Net”. Dalam penyelesaian tugas ini kami sampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat Bapak Ir. Hari Subagio.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sesempurna dari apa yang diharapkan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan bagi penyempurnaan makalah ini yang bersifat membangun.
Akhir kata, penyusun mohon maaf apabila dalam penulisan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca.






Surabaya, Januari  2014

Penyusun












DAFTAR ISI
HALAMAN..............................................................................................................
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB  I PENDAHULUAN....................................................................................... 3
1.1  Latar  Belakang.................................................................................................... 3
1.2   Maksud Dan Tujuan........................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................. 5
2.1 Deskripsi Alat Tangkap.......................................................................... 5
2.2 Cara Pengoperasian................................................................................ 9
2.3 Daerah Penagkapan (fishing Ground).................................................... 12
2.4 Ikan Tujuan Penangkapan...................................................................... 13
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................ 17
3.1 Persyaratan Teknis.................................................................................. 17
3.2 Perhitungan............................................................................................ 17
3.3 Alokasi Kebutuhan Bahan..................................................................... 20
3.4 Desain  Alat Tangkap............................................................................. 22
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 23
4.1 Kesimpulan............................................................................................. 23
4.2 Saran....................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 24




BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Indonesia adalah Negara kepulauan yang dipersatukan oleh wilayah lautan dengan luas seluruh wilayah teritorial adalah 8 juta  km2, mempunyai panjang garis pantai mencapai 81,00 km. Hampir 40 juta km2 atau sama dengan 2/3 dari luas wilayah Indonesia terdiri dari ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 2,7 km2 dan wilayah luas teritorial 3,1 km2. Indonesia yang mempunyai 2/3 dari luas daratan terdiri dari beraneka ragam Sumberdaya ikan di dalamnya. Potensi laut sebesar 6,2 juta ton terdiri dari : ikan pelagis besar (975 ribu ton), ikan pelagis kecil (3.235,5 ribu ton), ikan demersal (1.786,35 ribu ton), ikan karang konsumsi (63,99 ribu ton), udang penaeid (74,00 ribu ton), lobster (4,80 ribu ton) dan cumi-cumi (28,25 ribu ton).
(Dahuri, 2001)
            Trammel Net merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan. Hasil tangkapannya sebagian besar berupa udang, walaupun hasilnya masih jauh dibawah pukat harimau (trawl). Secara umum, Trammel net banyak dikenal nelayan sebagai “Jaring kantong”, ” Jaring Gondrong” atau “Jaring Udang”. Sejak pukat harimau dilarang penggunaannya, Trammel net ini semakin banyak digunakan oleh nelayan.
            Konstruksi dan desain Trammel net sangat sederhana sehingga mudah dibuat sendiri oleh nelayan. Alat tersebut merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis jaring yang dirangkai menjadi satu, yaitu terdiri dari: dua lembar jaring di bagian luar “otter net” dengan ukuran mata yang lebih besar, dan satu lembar jaring di bagian dalam/tengah “inner net” dengan ukuran mata lebih kecil dan dirangkai agak longgar, dengan shortening yang lebih besar. Agar alat tersebut terbuka tegak lurus di perairan pada saat dioperasikan maka Trammel net dilengkapi pula dengan pelampung, pemberat dan tali ris. Dengan demikian alat ini digolongkan juga sebagai jaring insang (gill net). Bedanya kalau Trammel net terdiri dari 3 lapis jaring, sedangkan gill net hanya 1 lapis jaring. Dengan konstruksi tersebut, Trammel net sering juga disebut sebagai “jaring insang berlapis tiga’ (triple net ). Dalam pengoperasiannya jaring ini dapat dilabuh di dasar maupun dihanyutkan di perairan. Ikan-ikan tertangkap dengan cara terpuntal pada badan jaring.


1.2              Maksud dan Tujuan
Ø   Untuk membuat  konstruksi dan desain alat tangkap trammel net.
Ø  Untuk mengetahui tempat Daerah  Penangkapan Ikan dan cara pengoperasian alat tangkap trammel net.
Ø  Untuk menghitung gaya yg bekerja  pada alat tangkap trammel net.
Ø  Untuk menentukan Kebutuhan alokasi bahan dalam merakit suatu lintag trammel net


















                                                          





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Deskripsi Alat Tangkap
a. Lembaran Jaring
Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan tertangkap secara terpuntal (tersangkut ) jaring. Tubuh jaring terdiri dari 3 lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit lapisan jaring dalam. Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada ukuran mata jaring lapisan luar.
Ø  Jaring lapisan dalam,
Ø    Selapis jaring terletak di tengah antara dua jaring lapisan luar (outer net).
Ø  Berfungsi memberikan obyek tangkap dengan membentuk kantong akibat dorongan obyek terhadap jaring lapisan dalam.
Ø  Mata jaring berukuran kecil dari benang berdiameter kecil.
Ø  Fleksibel atau daya lentur bahan sedemikian baik sehingga dapat dengan mudah membentuk kantong.
Ø  Lapisan jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran mata jaring nya berkisar antara 1,5 – 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). Setiap lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51 mata.
v  Jaring lapisan luar,
Ø  Dua lapis jaring terletak simetris di luar kedua sisi jaring lapisan dalam.
Ø  Berfungsi sebagai kerangka yang akan menerima beban kerja pada jaring dan mempertahankan bentuk jaring yang efektif.
Ø  Mata jaring berukuran besar terbentuk dan terbuat dari benang berukuran besar dengan simpul yang kuat.
Ø  Kekuatan harus tinggi sehingga mampu sebagai kerangka.
Ø  Lapisan jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min ).

v  Selvage ( Srampat )
            Selvedge adalah bagian jaring yang menghubungkan  badan jaring bagian atas dengan tali pelampung dan dengan tali pemberat bagian bawah, maka pada bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage (srampat). Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang rangkap yang berfungsi untuk melindungi jarring, terutama pada bagian bawah jaring agar kuat saat bergesekan dengan dasar perairan. Selvage tersebut mempunyai mata jaring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 – 2 mata pada pinggiran jaring bagian atas dan 5 – 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah. Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran 210 d4 – 210 d6.
b. Tali Temali                                 
v  Tali pelampung
Ø  Sebagai tempat melekatnya pelampung.
Ø  Bersama dengan ris atas berfungsi sebagai daya apung.
Ø  Kedua tali ini harus cukup kuat untuk menahan beban pada saat penarikan dan pengangkatan jaring.
Ø  Tali sebaiknya dipilih dari bahan yang mengapung.
Ø  Diameter tali pelampung lebih besar dari tali ris bawah dan tali pemberat yang disesuaikan dengan diameter tali pelampung.
Ø  Panjang tali pelampung menentukan panjang alat tangkap .
v  Tali Ris
v  Trammel net dilengkapi dengan dua buah tali ris yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris atas adalah untuk menggantungkan tubuh/badan jaring dan tempat mengikatkan pelampung, sedangkan fungsi tali ris bawah adalah untuk tempat mengikatkan pemberat dan menghubungkan pemberat dengan badan jaring serta sebagai penghubung lembar jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang) dan selain itu juga untuk melindungi dan memperkuat bagian lembaran jaring serta untuk mempermudah penarikan atau penaikan alat ke atas kapal. Sebagai bahan untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 – 4 mm. Ukuran diameter 4 mm untuk tali ris atas dan 1.5 mm untuk tali ris bawah. Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 – 30 m, sedangkan tali ris bawah antara 30 – 32 m
v Tali pemberat
Ø  Sebagai tempat pemasangan pemberat.
Ø  Berfungsi sebagai gaya tenggelam.
Ø  Sesuai dengan tujuan penangakapan maka komponen ini harus mempertahankan alat agar    tetap menempel atau membenam didasar perairan saat pengoperasian berlangsung.
Ø  Diameter tali disesuaikan dengan diameter dalam pemberat dan tidak terlalu kecil untuk menghindari tersangkutnya pemberat pada badan jaring.
Ø  Memakai bahan yang bersifat tenggelam akan lebih baik seperti polyester atau polyvinyl alkohol.
Ø  Panjang tali pemberat disesuikan dengan panjang tali ris bawah menurut shortening yang dikehendaki.
Ø  Dipilih bahan yang tahan akibat beban gesekan pada dasar perairan.
v  Tali selambar, tali bendera / umbul
Ø Pelampung berperan utama dalam menimbulkan gaya apung jaring. Digunakan pada saat  pengoperasian yang kebutuhannya disesuaikan menurut cara pen

c. Pelampung dan Pemberat Pelampung
Ø    pengoperasian alat dan kedalaman perairan.
Ø  Untuk pengoperasian pada dasar perairan pelampung menerima tekanan hidrostatik lebih besar sehingga diperlukan jarak pemasangan antar pelampung yang efektif untuk menghindari kehilangan luas akibat lengkungan tali pelampung.
Ø  Disamping itu pelampung harus kuat untuk menahan tekanan hidrostatik.
Ø  Pelampung yang umum digunakan adalah pelampung plastic dan sponge.
Ø  Pemberat
Ø  Pemberat mempunyai peran utama dalam menghasilkan gaya tenggelam jaring dan mempertahankan jaring agar tetap di dasar perairan pada saat pengoperasian.
Ø  Pemberat yang lebih kecil akan lebih meratakan beban pada tali pemberat sehingga lebih bagus bentuk jaring yang dihasilkan, namun diameter dalam tidak terlalu kecil sehingga memungkinkan ukuran tali pemberat yang diinginkan dapat masuk.
Ø  Pemberat berbentuk bulat telur lebih popular terutama dari bahan timah. Bahan pemberat lain seperti : besi, batu kali, tanah liat dan batu semen terkadang juga digunakan.
d. Danleno
Ø  Danleno terbuat dari kayu atau bambu maupun pipa panjang, dimana tinggi danleno disesuikan dengan ketinggian jaring trammel net (Anonymous, 1985).
Ø  Danleno dilengkapi dengan tali penarik (bridle line), pada ujung atas diberi pelampung dan pada ujung bawahnya diberi pemberat supaya dapat berdiri dalam air dan tenggelam (Anonymous, 1985).
e. Tali Selambar
            Tali selambar berfungsi untuk mnghubungkan jaring dengan kapal yang disebut tali selambar belakang, sedangkan tali selambar depan adalah tali yang menghubungkan jaring dengan pelampung tanda. Bahan tali selambar ialah polyethylene. Panjang tali selambar yang biasa digunakan sekitar 100 - 120 m dengan diameter 1,25 cm.
f. Pelampung (float)
            Pelampung merupakan bagian dari Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung untuk mengangkat tali ris atas agar jaring terbentang sempurna dalam air pada saat dioperasikan. Jenis pelampung yang digunakan biasanya adalah terbuat dari bahan plastik dan gabus. Plastik yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40 – 50 cm. Jumlah pelampung yang digunakan biasanya 54 buah per piece jaring dengan panjang tiap gabus 3 cm dan diameter 2 cm. Tali pelampung terbuat dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 – 4 mm.
g. Pemberat (sinker)
            Pada Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring dan penyeimbang dari buoyancy force yang dihasilkan oleh pelampung sehingga jaring dapat terbentang ke arah dasar air dan kedudukan jaring stabil pada saat dioperasikan. Dengan adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak lurus di perairan sehingga dapat menghadangkan atau udang yang menjadi tujuan penangkapan. Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah (timbel) yang berbentuk lonjong, dengan berat antara 10 – 13 gram/buah. Jumlah pemberat yang biasanya digunakan sebanyak 240 buah/piece jaring atau sekitar 3,5 kg dengan panjang tiap pemberat 2 cm dan diameter 1 cm. Pemasangan pemberat dilakukan dengan jarak antara 19 – 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene dengan garis tengah 2 mm. Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan yang digunakan 2 buah biasanya berupa dari batu bata atau batu kali dan beratnya  sekitar 7-20 kg.
h. Pelampung Tanda
            Pelampung tanda adalah pelampung yang terdapat pada permukaan perairan yang berfungsi sebagai tanda bagi pelintas perairan lainnya bahwa di tempat tersebut sedang dioperasikan trammel net. Pelampung tanda terbuat dari gabus dan diberi tambahan bendera sebagai penanda.
i. Tali Penghubung ke Kapal
            Trammel net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah 7,5 – 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung antara jaring dengan pelampung utama (berbendera) sebagai tanda. Selain itu juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 – 7,5 cm yang dipasang pada sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris atas dan bawah.
2.2       Cara Pengoperasian
           
            Trammel net dapat dioperasikan dengan cara dipasang menetap di dasar perairan ataupun dihanyutkan. Ikan tertangkap secara terjerat atau terpuntal pada mata jaring. Alat ini dapat juga dioperasikan dengan ditarik lurus kedepan melalui kedua sisinya atau ditarik menelusuri dasar perairan melalui salah satu sisinya yang nantinya seakan membentuk seperti lingkaran dengan ujung sisi yang pertama kali diturunkan sebagai pusat dengan tujuan untuk mendapatkan area cakupan penangkapan seluas mungkin (sweeping trammel net) (Subani dan Barus, 1981).             Operasi penangkapan trammel net dilakukan pada pagi hari yaitu antara jam 06.00 sampai 16.00 WIB. Dalam satu hari operasi penangkapan bisa mencapai 5 kali setting, lama dari setting sekitar 5 menit dan kecepatan kapal mencapai 6-6,5 knot. Pada pengoperasian alat tangkap trammel net ini menggunakan sistem aktif yaitu dalam pengoperasiannya kapal berputar 3600 dan melintang angin dan arus.



a. Cara Lurus
Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan, Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 – 25 tinting. Perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 – 4 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 – 1 jam, kemudian dilakukan penarikan dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.

b. Cara Setengah Lingkaran
            Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam (inboard motor) atau perahu motor luat (outboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring 60 – 80 tinting (lembar jaring) dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring hingga membentuk setengah lingkaran. Kemudian ditarik ke kapal dan ikan & udang yang tertangkap dilepaskan.
c. Cara Lingkaran
Pengoperasiannya dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah lingkaran. Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan yang tertangkap diambil.
2.2.1. Persiapan
            Sebelum kapal berlayar ke fishing ground   para ABK kapal melakukan persiapan terlebih dahulu. Adapun persiapan yang dilakukan pada perikanan trammel net yaitu mempersiapkan perbekalan (makanan dan minuman), pengisian es dan air tawar, pengisian solar, oli atau minyak pelumas, pengecekan dan penataan alat tangkap, pengontrolan mesin baik mesin penggerak utama maupun mesin bantu operasi penangkapan seperti gardan, mempersiapkan lampu baik lampu navigasi maupun lampu penerangan yang lain.
Selain dari itu sebelum kapal berangkat harus dipersiapkan pula antara lain :
Ø  Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP).
Ø  Surat Ijin Kapal Perikanan (SIKP).
Ø  Surat Kecakapan/Ijazah Nahkoda.
Ø  Pas tahunan kapal penangkapan ikan.
Ø  Surat Kelaikan dan Pengawakan Kapal penangkap ikan.
2.2.2. Penurunan alat tangkap (setting)
            Setelah kapal sampai di fishing ground maka kegiatan selanjutnya adalah penurunan jaring. Setting ini diawali dengan :
Ø  Pertama-tama penurunan pelampung tanda (umbul-umbul).
Ø  Dilanjutkan dengan penurunan tali pelampung  sepanjang 50 m.
Ø  Setelah pelampung tanda menurunkan batu + 7 kg.
Ø  Bersamaan dengan badan jaring sebanyak 20 piece.
Ø  Kemudian diteruskan dengan penurunan danleno.
Ø  Setelah danleno dilanjutkan dengan penurunan tali selambar. Pada penurunan tali selambar, ABK yang bertugas sudah siap menurunkan pemberat batu + 50 kg karena pada jarak 20 m tali selambar tersebut terdapat pemberat batu sebesar + 50 kg.
Ø  Dan dilanjutkan lagi penurunan tali selambar sepanjang 180 m sampai ke lambung haluan kapal.
2.2.3 Penyeretan Alat Tangkap (towing)
            Setelah penurunan jaring selesai, maka dilakukan towing yaitu penyeretan alat tangkap didasar perairan setelah setting selesai dilakukan. Proses towing disini dilakukan secara berputar 3600 selama +2 jam dan kecepatan kapal yang semula 7 knot pada saat towing akan menjadi +1,5 knot.

2.2.4 Penarikan Alat Tangkap (hauling)
            Setelah kegiatan towing berlangsung selama +2 jam, maka selanjutnya dilakukan penarikan jaring diawali dengan menarik tali selambar dengan menggunakan alat bantu gardan. Proses dari penarikan jaring ini pertama-tama tali selambar dilewatkan pada boulder lau ditarik dengan menggunakan gardan, selama penarikan sepanjang 180 m, maka penarikan dihentikan sejenak untuk melewatkan pemberat batu dari boulder . setelah batu melewati boulder, maka penarikan dilanjutkan kembali dengan menggunakan gardan sampai munculnya danleno ke permukaan perairan, maka penarikan dengan menggunakan gardan dihentikan diganti dengan manual menggunakan tenaga manusia.
            Penarikan jaring dilakukan oleh 8 orang ABK. Tugas dari nahkoda saat penarikan jaring dilakukan adalah mengendalikan kapal mengikuti ke mana arah jaring untuk meringankan penarikan jaring yang dilakukan oleh ABK. Biasanya waktu yang diperlukan untuk menarik jaring sekitar 0,5 jam jika tidak terdapat hambatan.
2.2.5 Penanganan Hasil Tangkapan
            Penanganan hasil tangkapan dilakukan setelah jaring terangkat semua ke atas dek, maka sebagian ABK mengeluarkan hasil tangkapan dari jaring satu-persatu dan sebagian lagi melakukan setting berikutnya. Biasanya setting dilakukan oleh 2 orang ABK dan nahkoda yang mengatur penurunan jaring beserta arah dari penurunan jaring.
            Setelah hasil tangkapan dikeluarkan semua dari badan jaring, maka dilakukan penyortiran baik menurut jenis, ukuran, dan kualitas. Kemudian hasil sortiran tersebut dicuci dengan menggunakan air laut dan dimasukkan ke dalam tong lalu diberi es yang sudah dihancurkan (es curah), kemudian dimasukkan ke dalam palkah. Kegiatan seperti ini memakan waktu + 1,5 jam.
2.3       Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
            Daerah penangkapan pada alat tangkap trammel net adalah perairan dimana pada perairan tersebut banyak terdapat udang maupun ikan yang merupakan tujuan dari penangkapan, biasanya daerah tersebut adalah perairan yang salinitasnya rendah misalnya daerah-daerah perairan yang dekat muara sungai. Jika fishing ground yang baik dan menguntungkan dalam usaha penangkapan telah ditemukan, maka faktor-faktor lain juga harus diperhatikan misalnya jarak antara daerah penangkapan dengan pangkalan pendaratan ikan (fishing base) dan dari segi efisiensi usaha serta syarat-syarat perairan yang sesuai untuk kehidupan jenis biota tertentu dan penggunaan alat penangkapan dengan kondisi daerah penangkapan.
           




Daerah penangkapan ikan (fishing ground) adalah suatu daerah perairan tertentu yang terdapat jenis ikan tertentu, sebagai tempat untuk mengadakan usaha penangkapan (Damanhuri, 1980).Suatu perairan dikatakan daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut antara lain :
Ø  Di dalam perairan tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.
Ø  Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah dan sempurna.
Ø  Lokasi tidak jauh dari pelabuhan (fishing base), sehingga mudah dijangkau oleh kapal.
Ø  Daerah aman, tidak biasa dilalui oleh angin topan dan bukan daerah badai yang membahayakan.
Ø  Bukan alur pelayaran.
2.4       Ikan Tujuan Penangkapan
            Jenis ikan tangkapan utama alat tangkap Trammel net adalah udang putih
1.      Taksonomi dan Anatomi
Klasifikasi Udang Putih (Penaeaus marguensis) menurut Wikipedia (2010) adalah sebagi berikut:
Kingdom                     : Animalia
            Filum                           : Crustacea
             Kelas                          : Malacostraca
 Ordo                           : Decapoda
             Famili                         : Peneidae
             Genus                         : Peneaus
             Spesies                       : Penaeus  marguensis










2.               Habitat udang putih Penaeaus marguensis
Udang  putih hidup di semua jenis habitat perairan dengan 89% di antaranya hidup di perairan laut, 10% di perairan air tawar dan 1% di perairan terrestrial (Abele, 1982).
Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan terbatas dalam mentolerir perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas pada daerah terjauh dari estuaria yang umumnya mempunyai salinitas 30atau lebih. Kelompok yang mempunyai kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan salinitas sampai di bawah 30hidup di daerah terrestrial dan menembus hulu estuaria dengan tingkat kejauhan bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies untuk mentolerir penurunan tingkat salinitas. Kelompok terakhir adalah udang air tawar.
 Udang dari kelompok ini biasanya tidak dapat mentolerir salinitas di atas 5. Udang menempati perairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai berpasir, berbatu ataupun berlumpur. Spesies yang dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing spesies menyesuaikan diri dengan kondisi fisik-kimia perairan (Nybakken, 1992).
3.      Penaeaus marguensis
         Daur hidup udang meliputi beberapa tahapan yang membutuhkan habitat yang berbeda pada setiap tahapan. Udang melakukan pemijahan di perairan yang relatif dalam. Setelah menetas, larvanya yang bersifat planktonis terapung-apung dibawa arus, kemudian berenang mencari air dengan salinitas rendah di sekitar pantai atau muara sungai. Di kawasan pantai, larva udang tersebut berkembang. Menjelang dewasa, udang tersebut berupaya kembali ke perairan yang lebih dalam dan memiliki tingkat salinitas yang lebih tinggi, untuk kemudian memijah. Tahapan-tahapan tersebut berulang untuk membentuk siklus hidup.
         Udang Penaeid dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami beberapa fase, yaitu: nauplius, zoea, mysis, post larva, juvenile (udang muda) dan udang dewasa (Fast & Lester, 1992). Daur hidup udang dapat dilihat seperti pada Gambar , berikut:


4.      Kebiasaan Makan Udang Putih Penaeaus marguensis
Udang termasuk hewan omnivora (pemakan segala) namun cenderung bersifat karnivora (pemakan daging), tetapi sifat kanibal dari udang akan timbul bila terjadi kekurangan makanan atau makanan yang tersedia mutunya rendah. Secara alami pemilihan terhadap jenis makanan sangat bervariasi ini tergantung tingkatan umur udang yang bersangkutan. Pada waktu masih burayak, makanan utamanya terdiri dari plankton-plankton nabati contohnya Tetraselmis.
Pada tingkat mysis berupa plankton hewani, pada saat udang dewasa suka makan daging, larva serangga, cacing-cacingan, klekap dan detritus. Udang vaname mencari dan mengindentifikasi pakan bantuan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri daribulu-bulu halus (setae).




BAB III
PEMBAHASAN

3.1       Persyaratan Teknis
Trammel net adalah alat tangkap yang termasuk bottom gill net  (Nomura dan Yamazaki dalam Naddin 2000). Konstruksinya terdiri dari tiga lembar jaring dengan mata jering kecil tergantung bebas ditengah diantara dua jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih besar. Jaring lapisan luar ini (outter net) mempunyai ukuran mata jaring sampai lima kali lebih besar daripada mata jaring sebelah dalam (inner net). 

Trammel net merupakan salah satu bottom gill net yang sudah sangat maju dan dikhususkan untuk menangkap udang. Trammel net merupakan jaring insang yang terdiri dari tiga lapis jaring. Satu lapis bagian dalam (inner net) dan dua lapis bagian luar (outter net). Mesh size jaring lapisan bagian dalam lebih kecil dari mesh size lapisan luar. Pengoperasiannya dapat dilakukan setiap saat, namun pada musim-musim tertentu alat ini sangat menonjol untuk penangkapan udang. Prinsip pengoperasiannya berbeda-beda sesuai dengan kondisi perairan. Bisa dipasang menetap dan membentang lurus memotong arus, atau jaring dipasang membentang lurus kemudian ditarik dengan membentuk lingkaran dengan jalan menghela jaring (Sudirman dan Mallawa, 2004).
Mengenai ukran dalamnya trammel net, tergantung pada tujuan jaring tersebut akan dipergunakan untuk menangkap ikan di permukaan atau di dasar. Trammel net untuk menangkap ikan dasar biasanya dibuat tidak terlalu dalam, ada yang 4 meter atau 5 meterbahkan trammel net yang bertujuan untuk menangkap udang hanya sedalam kurang lebih 2 meter dalam keadaan tergantung (bukan dalam keadaan mata jaring tertutup). Trammel net yang dipasang di perairan permukaan tujuannya adalah untuk menangkap udang. Disamping itu jenis-jenis ikan dasar lainnyapun dapat juga tertangkap seperti misalnya ikan manyung, ikan kepe, ikan cucut dan lain-lain (Usemahu dan Leopold, 2004)
Menurut Atmaja (2010), trammel net adalah alat penangkap ikan yang terdiri dari tiga dinding dengan bentuk segi empat. Dua bagian outter net terletak disisi kiri dan kanan terbuat dari nylon mono filament dan inner net (middle net) terbuat dari nylon mono. Panjang net pada masing-masing bagian adalah 18 m dan lebar 1,5 m. Alat ini biasanya menggunakan empat bagian net. Trammel net dioperasikan dengan membentangkannya diatas hamparan perairan secara vertikal, kemudian ditarik ke arah perahu. Perahu bergerak kearah pelampung tanda yang diturunkan pertama kali, selanjutnya berputar dua kali dan kemudian melakukan hauling.
Trammel net termasuk ke dalam kelompok entagled net dimana konstruksinya berbeda dengan gill net. Berdasarkan konstruksi, trammel net terdiri dua lapis jaring, jaring yang berada di lapisan luar (outter net) terdiri dua lapis jaring dengan mata jaring yang berukuran lebih besar, sedangkan jaring yang berukuran mata jaring lebih kecil (inner net) terletak di antara keduanya. Umumnya ukuran mata jaring outer net 4-5 kali lebih besar dari ukuran mata jaring bagian inner net dan tinggi jaring dalam keadaan terentang dari inner net berkisar antara 1-2 kali lebih besar dari bagian outer net. Fungsi inner net pada trammel net adalah untuk menjerat hasil tangkapan, sedangkan outer net berfungsi sebagai penguat inner net serta sebagai kerangka untuk membentuk kantong pada trammel net saat inner net menjerat hasil tangkapan (Ardiansyah, 2001)
3.2       Perhitungan
            Diketahui:
  1. Inner net : Terbuat dari PA Ø 0,035 mm, Mesh size 5 cm, 1288♯
  2. Outter net : Terbuat dari PA Ø 0,07 mm, Mesh size 15 cm, 429♯
  3. Tali ris atas : Terbuat dari PE Ø 7 mm, Panjang 32 m
  4. Tali ris bawah : Terbuat dari PE Ø 3 mm, Panjang 32 m
  5. Tali pelampung : Terbuat dari PE Ø 5 mm, Panjang 32 m
  6. Tali pemberat : Terbuat dari PE Ø 3mm, Panjang 32 m
  7. Pelampung : Menggunakan Y-3 sebanyak 71 buah
  8. Pelampung tanda : Ø 300 mm sebanyak 2 buah
  9. Pemberat : Menggunakan pb 50gr sebanyak 142 buah

Inner net
Lo        =  n x m
            = 1288# x 5
            =  6440 cm

S          = Lo – L x 100 %
                 Lo
60 %    =  6440 – 32   x 100 %
                  6440
0,6       =  6440 – 32   x 100 %
                 6440
 6439   =  6440 –32
= 6407
L          =  64396407
            =  32 m

d          =  n . m √2S-
            = 50 . 5 √2 . 0,6 - 0,6²
            = 250 √1,2 – 0,36
            = 250 √0,84
            = 250 . 0,9
            = 2,29 m

Outter net
Lo        = n x m
            = 429 x 15
            = 6435 cm



S          = Lo – L      x 100 %
                 Lo
30 %    = 6435 - 32   x 100%
                6435
0,35     = 6435 – 32  x 100%
                 6435
6434    =  6434 – 32
            = 6402
L          = 64346402
            = 32 m

d          = n . m √2S-
            = 9 . 15 √2 . 0,3 – 0,3²
            = 135 √0,6 – 0,09
            = 135 √0,51
            = 135 . 0,7
            = 96,4 cm


\
Gaya Apung :
Tali ris atas                  : 1,2 kg x ( 0,08 ) =  0,096 kgf
Tali ris bawah              : 0,7 kg x (  0,08) =  0,056 kgf
Tali pelampung            : 1 kg x (  0,08 ) =   0,08 kgf
Tali pemberat              : 0,7 kg x (-0,08) = - 0,056 kgf
Pelampung      Y8       : 30 grf x 71 = 2130 grf = 2,13 kgf
Σ gaya apung             : 2,13+(+ 0,08)+( + 0,056)+(+0,096) = 1,898 kgf




Gaya Tenggelam :
Pemberat                     : 7100 gr x 0,91 = 6461 grf = 6,461 kgf
Berat jaring secara keseluruhan dapat ditentukan dengan rumus :
            Berat jaring tak bersimpul: W = H x Lo x R tex/1.000
            Berat jaring bersimpul: W = H x Lo x K x R Tex/1.000
Sedangkan untuk perhitungan berat jaring pada alat tangkap trammel  net  yaitu termasuk berat jaring bersimpul dengan perhitungan sebagai berikut :
Dimana :          W        : Berat jaring yang dihitung (gr)
                        H         : Jumlah baris simpul (2x jumlah mata arah vertical)
                        Lo           : Panjang jaring dalam keadaan tegang (m)
                        K         : Faktor koreksi simpul jaring (pada jaring yang bersimpul) 
                        R Tex  : Ukuran benang jaring 
Jaring   inner net : W   = H x Lo x K x R Tex/1.000
= 2576 x 6440 x 1,025 x 23 /1.000
= 391.09  =  391.1gr

Jarring outer net     : W = H x Lo x K x R Tex/1.000
= 858 x 6435 x 1,025 x 23 /1.000
= 130.162 = 130.15 gr

                                                    

                                            
Σ gaya tenggelam      : 6,461+(- 0,056) = 6,405 kgf


EXTRA BOUYANCY
EB       = TB – S  x 100 %
                  TB
= 1,898 – 6,407   x 100 %
                    1,898
= - 4,509   x 100 %
                 1,898
= - 2,37 x 100 %
= - 237 %


Jarak antar pelampung       
            Panjang Tali Ris Atas          =
            ( Jumlah Pelampung – 1)
            3200 cm     =  3200   = 45,7 cm
              (71-1)                        70

Jarak antar pemberat
            Panjang Tali Ris Pemberat     =
            ( Jumlah Pemberat – 1 )
            3200 cm   = 3200   = 22,6 cm
            (142-1)                  (141)




3.3       Alokasi Kebutuhan Bahan  
No
Bagian jaring
Bahan
Ukuran  mata jaring
Panjang (L) (m)
Ø benang (mm)
Panjang (Lo) (m)
1.
2.
Inner net
Outter net
Polyamide
Polyamide
5 cm
15 cm
32
32
0,035
0,07
64,3
64,3


No
Jenis Tali
Bahan
Ø (mm)
Panjang (m)
Berat tali (Kg)
1.
2.
3.
4.
Tali Ris atas
Tali Ris bawah
Tali Pelampung
Tali Pemberat
Polyethylene
Polyethylene
Polyethylene
Polyethylene
7 mm
3 mm
5 mm
3 mm
32 m
32 m
32 m
32 m
1,2
0,7
1
0,7

TOTAL
X
X
X
3,6

No
Bagian dari Alat
Bahan
Jenis
Jumlah Satuan
Berat/Buah (gr)
Berat (kg)
1.
2.
3.
4.
Pelampung
Pelampung tanda
Pemberat
Jangkar
PVC

Timah hitam

Y-3

Timah hitam
Fe
71
2
142
2
13 gr

50 gr
10.000 gr
 0,9

 7,1
20

TOTAL
X
X
X
X
28









3.4       Desain Alat Tangkap











BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1       Kesimpulan
            Trammel net yang dioperasikan memiliki ciri khusus terdiri dari tiga lapis jaring dan alat tangkap ini sangat efektif untuk menangkap udang. Udang maupun ikan yang tertangkap yaitu dengan cara terjerat (gillet) maupun terbelit (entanglet).
            Faktor yang menunjang keberhasilan pengoperasian alat tangkap trammel net adalah keberadaan udang yang menjadi tujuan penangkapan dan daerah penangkapan yang sesuai dengan alat tangkap trammel net yaitu dasar perairan tidak berkarang, bebas dari tonggak, gelombang tidak besar, dasar perairan landai dan bukan merupakan daerah alur pelayaran.
4.2       Saran
Alat tangkap trammel net tersebut dioperasikan di dasar perairan, sehingga pada saat trammel net diturunkan, nahkoda sudah mengetahui tekstur dasar perairan untuk menghindari jaring rusak atau putus karena tersangkut pada karang atau kayu besar yang tenggelam didasar perairan.














DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1989/1990. Trammel Net. Pemerintah Tingkat I Sumatera Utara. Proyek Intensifikasi Produksi Pertanian. Medan.
Anonymous. 2000. Teknnik Penangkapan Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan. SPP-SUPM Negeri Tegal. Jawa Tengah.
Bambang. 1998. Sumber Daya Udang Panaeid dan Krustacea Lainnya. Komisi nasional Pengkaji Stok Sumberdaya ikan Laut Lembaga Ilmu pengetahuan Dunia.
Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya. Malang.
Usemahu, A.R. 2003. Teknik Penangkapan Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perikanan, 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar