TUGAS AKIR SEMESTER
RANCANG BANGUN ALAT
TANGKAP
TRAMMEL NET
oleh :
ISMAIL TUEN LAMBALAWA
NIM : 2011.02.5.0008
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU
KELAUTAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014
Kata Pengantar
Dengan mengucap puji syukur
kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan Rahmat serta Hidayah-Nya dan
tidak lupa sholawat serta salam penyusun haturkan kepada Nabi Muhammad SAW,
sehingga penyusun makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun berdasarkan untuk melengkapi tugas
Rancang Bangun Alat Tangkap tentang “Trammel Net”. Dalam penyelesaian tugas ini
kami sampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat Bapak Ir. Hari Subagio.
Kami menyadari bahwa
makalah ini masih belum sesempurna dari apa yang diharapkan. Oleh karena itu
kritik dan saran sangat kami harapkan bagi penyempurnaan makalah ini yang
bersifat membangun.
Akhir kata, penyusun
mohon maaf apabila dalam penulisan terdapat kata-kata yang kurang berkenan di
hati para pembaca.
Surabaya, Januari 2014
DAFTAR
ISI
HALAMAN..............................................................................................................
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB
I PENDAHULUAN....................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 3
1.2 Maksud Dan Tujuan........................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................. 5
2.1 Deskripsi Alat Tangkap.......................................................................... 5
2.2 Cara Pengoperasian................................................................................ 9
2.3 Daerah Penagkapan (fishing
Ground).................................................... 12
2.4 Ikan Tujuan Penangkapan...................................................................... 13
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................ 17
3.1 Persyaratan Teknis.................................................................................. 17
3.2 Perhitungan............................................................................................ 17
3.3 Alokasi Kebutuhan Bahan..................................................................... 20
3.4 Desain Alat Tangkap............................................................................. 22
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 23
4.1 Kesimpulan............................................................................................. 23
4.2 Saran....................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia adalah Negara kepulauan yang dipersatukan oleh
wilayah lautan dengan luas seluruh wilayah teritorial adalah 8 juta
km2,
mempunyai panjang garis pantai mencapai 81,00 km. Hampir 40 juta km2
atau sama dengan 2/3 dari luas wilayah Indonesia terdiri dari ZEE (Zona Ekonomi
Eksklusif) 2,7 km2 dan wilayah luas teritorial 3,1 km2.
Indonesia yang mempunyai 2/3 dari luas daratan terdiri dari beraneka ragam
Sumberdaya ikan di dalamnya. Potensi laut sebesar 6,2 juta ton terdiri dari :
ikan pelagis besar (975 ribu ton), ikan pelagis kecil (3.235,5 ribu ton), ikan
demersal (1.786,35 ribu ton), ikan karang konsumsi (63,99 ribu ton), udang
penaeid (74,00 ribu ton), lobster (4,80 ribu ton) dan cumi-cumi (28,25 ribu
ton).
(Dahuri, 2001)
Trammel Net merupakan salah satu
jenis alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh nelayan. Hasil
tangkapannya sebagian besar berupa udang, walaupun hasilnya masih jauh dibawah
pukat harimau (trawl). Secara umum, Trammel net banyak dikenal nelayan sebagai
“Jaring kantong”, ” Jaring Gondrong” atau “Jaring Udang”. Sejak pukat harimau
dilarang penggunaannya, Trammel net ini semakin banyak digunakan oleh nelayan.
Konstruksi dan desain Trammel net
sangat sederhana sehingga mudah dibuat sendiri oleh nelayan. Alat tersebut
merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis
jaring yang dirangkai menjadi satu, yaitu terdiri dari: dua lembar jaring di
bagian luar “otter net” dengan ukuran mata yang lebih besar, dan satu lembar
jaring di bagian dalam/tengah “inner net” dengan ukuran mata lebih kecil dan
dirangkai agak longgar, dengan shortening
yang lebih besar. Agar alat tersebut terbuka tegak lurus di perairan pada saat
dioperasikan maka Trammel net dilengkapi pula dengan pelampung, pemberat dan
tali ris. Dengan demikian alat ini digolongkan juga sebagai jaring insang (gill
net). Bedanya kalau Trammel net terdiri dari 3 lapis jaring, sedangkan gill net
hanya 1 lapis jaring. Dengan konstruksi tersebut, Trammel net sering juga
disebut sebagai “jaring insang berlapis tiga’ (triple net ). Dalam
pengoperasiannya jaring ini dapat dilabuh di dasar maupun dihanyutkan di
perairan. Ikan-ikan tertangkap dengan cara terpuntal pada badan jaring.
1.2
Maksud
dan Tujuan
Ø Untuk membuat konstruksi dan desain alat tangkap trammel
net.
Ø Untuk
mengetahui tempat Daerah Penangkapan Ikan
dan cara pengoperasian alat tangkap trammel net.
Ø Untuk
menghitung gaya yg bekerja pada alat
tangkap trammel net.
Ø Untuk
menentukan Kebutuhan alokasi bahan dalam merakit suatu lintag trammel net
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Alat Tangkap
a.
Lembaran Jaring
Tubuh jaring (webbing) atau daging jaring merupakan bagian
jaring yang sangat penting, karena pada bagian inilah udang atau ikan
tertangkap secara terpuntal (tersangkut ) jaring. Tubuh jaring terdiri dari 3
lapis, yaitu 1 lapisan jaring dalam dan 2 lapisan jaring luar yang mengapit
lapisan jaring dalam. Ukuran mata jaring lapisan dalam lebih kecil dari pada
ukuran mata jaring lapisan luar.
Ø Jaring
lapisan dalam,
Ø
Selapis jaring terletak di tengah antara dua
jaring lapisan luar (outer net).
Ø Berfungsi
memberikan obyek tangkap dengan membentuk kantong akibat dorongan obyek
terhadap jaring lapisan dalam.
Ø Mata
jaring berukuran kecil dari benang berdiameter kecil.
Ø Fleksibel
atau daya lentur bahan sedemikian baik sehingga dapat dengan mudah membentuk
kantong.
Ø Lapisan
jaring dalam terbuat dari bahan Polyamide (PA) berukuran 210 dp-210 d4. Ukuran
mata jaring nya berkisar antara 1,5 – 1,75 inchi ( 38,1 mm -44,4 mm ). Setiap
lembar jaring mempunyai ukuran panjang 65,25 m ( 1.450 mata ) dan tingginya 51
mata.
v Jaring
lapisan luar,
Ø Dua
lapis jaring terletak simetris di luar kedua sisi jaring lapisan dalam.
Ø Berfungsi
sebagai kerangka yang akan menerima beban kerja pada jaring dan mempertahankan
bentuk jaring yang efektif.
Ø Mata
jaring berukuran besar terbentuk dan terbuat dari benang berukuran besar dengan
simpul yang kuat.
Ø Kekuatan
harus tinggi sehingga mampu sebagai kerangka.
Ø Lapisan
jaring luar juga terbuat dari Polyamide (PA) hanya saja ukuran benangnya lebih
besar yaitu 210 d6. Setiap lembar jaring panjangnya terdiri dari 19 mata dan
tingginya 7 mata dengan ukuran mata jaring 10,4 inchi ( 265 min ).
v Selvage ( Srampat )
Selvedge adalah bagian jaring
yang menghubungkan badan jaring bagian
atas dengan tali pelampung dan dengan tali pemberat bagian bawah, maka pada
bagian pinggir jaring sebelah atas dan bawah dilengkapi dengan selvage
(srampat). Selvage tersebut berupa mata jaring yang dijurai dengan benang
rangkap yang berfungsi untuk melindungi jarring, terutama pada bagian bawah
jaring agar kuat saat bergesekan dengan dasar perairan. Selvage tersebut
mempunyai mata jaring berukuran 45 mm, dan terdiri dari 1 – 2 mata pada
pinggiran jaring bagian atas dan 5 – 6 mata pada pinggiran jaring bagian bawah.
Sebagai bahan selvage sebaiknya Kuralon atau Polyethylene (PE) dengan ukuran
210 d4 – 210 d6.
b. Tali Temali
v Tali
pelampung
Ø Sebagai
tempat melekatnya pelampung.
Ø Bersama
dengan ris atas berfungsi sebagai daya apung.
Ø Kedua
tali ini harus cukup kuat untuk menahan beban pada saat penarikan dan
pengangkatan jaring.
Ø Tali
sebaiknya dipilih dari bahan yang mengapung.
Ø Diameter
tali pelampung lebih besar dari tali ris bawah dan tali pemberat yang disesuaikan
dengan diameter tali pelampung.
Ø Panjang
tali pelampung menentukan panjang alat tangkap .
v Tali Ris
v
Trammel net dilengkapi dengan dua buah tali ris
yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Fungsi tali ris atas adalah untuk
menggantungkan tubuh/badan jaring dan tempat mengikatkan pelampung, sedangkan
fungsi tali ris bawah adalah untuk tempat mengikatkan pemberat dan
menghubungkan pemberat dengan badan jaring serta sebagai penghubung lembar
jaring satu dengan lembar jaring lainnya secara horizontal (memanjang) dan
selain itu juga untuk melindungi dan memperkuat bagian lembaran jaring serta
untuk mempermudah penarikan atau penaikan alat ke atas kapal. Sebagai bahan
untuk pembuatan tali ris adalah Polyethylene (PE) dengan garis tengah tali 2 –
4 mm. Ukuran diameter 4 mm untuk tali ris atas dan 1.5 mm untuk tali ris bawah.
Panjang tali ris atas berkisar antara 25,5 – 30 m, sedangkan tali ris bawah
antara 30 – 32 m
v
Tali pemberat
Ø
Sebagai tempat pemasangan pemberat.
Ø Berfungsi
sebagai gaya tenggelam.
Ø Sesuai
dengan tujuan penangakapan maka komponen ini harus mempertahankan alat agar tetap menempel atau membenam didasar
perairan saat pengoperasian berlangsung.
Ø Diameter
tali disesuaikan dengan diameter dalam pemberat dan tidak terlalu kecil untuk
menghindari tersangkutnya pemberat pada badan jaring.
Ø Memakai
bahan yang bersifat tenggelam akan lebih baik seperti polyester atau polyvinyl
alkohol.
Ø Panjang
tali pemberat disesuikan dengan panjang tali ris bawah menurut shortening yang
dikehendaki.
Ø Dipilih
bahan yang tahan akibat beban gesekan pada dasar perairan.
v Tali
selambar, tali bendera / umbul
Ø Pelampung
berperan utama dalam menimbulkan gaya apung jaring. Digunakan pada saat pengoperasian yang kebutuhannya disesuaikan
menurut cara pen
c. Pelampung dan Pemberat Pelampung
Ø
pengoperasian alat dan kedalaman perairan.
Ø Untuk
pengoperasian pada dasar perairan pelampung menerima tekanan hidrostatik lebih besar sehingga
diperlukan jarak pemasangan antar pelampung yang efektif untuk menghindari
kehilangan luas akibat lengkungan tali pelampung.
Ø Disamping
itu pelampung harus kuat untuk menahan tekanan hidrostatik.
Ø Pelampung
yang umum digunakan adalah pelampung plastic dan sponge.
Ø Pemberat
Ø Pemberat
mempunyai peran utama dalam menghasilkan gaya tenggelam jaring dan
mempertahankan jaring agar tetap di dasar perairan pada saat pengoperasian.
Ø Pemberat
yang lebih kecil akan lebih meratakan beban pada tali pemberat sehingga lebih
bagus bentuk jaring yang dihasilkan, namun diameter dalam tidak terlalu kecil
sehingga memungkinkan ukuran tali pemberat yang diinginkan dapat masuk.
Ø Pemberat
berbentuk bulat telur lebih popular terutama dari bahan timah. Bahan pemberat
lain seperti : besi, batu kali, tanah liat dan batu semen terkadang juga
digunakan.
d. Danleno
Ø Danleno
terbuat dari kayu atau bambu maupun pipa panjang, dimana tinggi danleno
disesuikan dengan ketinggian jaring trammel net (Anonymous, 1985).
Ø
Danleno dilengkapi dengan tali penarik (bridle
line), pada ujung atas diberi pelampung dan pada ujung bawahnya diberi pemberat
supaya dapat berdiri dalam air dan tenggelam (Anonymous, 1985).
e. Tali Selambar
Tali
selambar berfungsi untuk mnghubungkan jaring dengan kapal yang disebut tali
selambar belakang, sedangkan tali selambar depan adalah tali yang menghubungkan
jaring dengan pelampung tanda. Bahan tali selambar ialah polyethylene.
Panjang tali selambar yang biasa digunakan sekitar 100 - 120 m dengan diameter
1,25 cm.
f. Pelampung (float)
Pelampung merupakan bagian dari
Trammel net yang berfungsi sebagai pengapung untuk mengangkat tali ris atas
agar jaring terbentang sempurna dalam air pada saat dioperasikan. Jenis
pelampung yang digunakan biasanya adalah terbuat dari bahan plastik dan gabus.
Plastik yang digunakan adalah plastik No. 18 dengan jarak pemasangan antara 40
– 50 cm. Jumlah pelampung yang digunakan biasanya 54 buah per piece
jaring dengan panjang tiap gabus 3 cm dan diameter 2 cm. Tali pelampung terbuat
dari bahan Polyethylene dengan garis tengah 3 – 4 mm.
g. Pemberat (sinker)
Pada
Trammel net, pemberat berfungsi sebagai pemberat jaring dan penyeimbang dari buoyancy
force yang dihasilkan oleh pelampung sehingga jaring dapat terbentang ke
arah dasar air dan kedudukan jaring stabil pada saat dioperasikan. Dengan
adanya pelampung dan pemberat tersebut, maka jaring dapat terbuka secara tegak
lurus di perairan sehingga dapat menghadangkan atau udang yang menjadi tujuan
penangkapan. Pemberat tersebut dibuat dari bahan timah (timbel) yang berbentuk
lonjong, dengan berat antara 10 – 13 gram/buah. Jumlah pemberat yang biasanya
digunakan sebanyak 240 buah/piece jaring atau sekitar 3,5 kg dengan
panjang tiap pemberat 2 cm dan diameter 1 cm. Pemasangan pemberat dilakukan
dengan jarak antara 19 – 25 cm, pada sebuah tali yang terbuat dari Polyethylene
dengan garis tengah 2 mm. Disamping itu biasanya pada jarak 12 m dari ujung
jaring pada tali yang diikatkan ke kapal masih dipasang pemberat tambahan yang
digunakan 2 buah biasanya berupa dari batu bata atau batu kali dan
beratnya sekitar 7-20 kg.
h. Pelampung Tanda
Pelampung tanda adalah pelampung
yang terdapat pada permukaan perairan yang berfungsi sebagai tanda bagi
pelintas perairan lainnya bahwa di tempat tersebut sedang dioperasikan trammel
net. Pelampung tanda terbuat dari gabus dan diberi tambahan bendera
sebagai penanda.
i. Tali Penghubung ke Kapal
Trammel
net juga dilengkapi dengan tali yang terbuat dari Polyethylene bergaris tengah
7,5 – 10 mm untuk menghubungkan jaring dengan kapal dan juga sebagai penghubung
antara jaring dengan pelampung utama (berbendera) sebagai tanda. Selain itu
juga dilengkapi sebuah swivel dengan garis tengah 6 – 7,5 cm yang dipasang pada
sambungan tali ke kapal dan kedua tali ris atas dan bawah.
2.2 Cara Pengoperasian
Trammel
net dapat dioperasikan dengan cara dipasang menetap di dasar perairan
ataupun dihanyutkan. Ikan tertangkap secara terjerat atau terpuntal pada mata
jaring. Alat ini dapat juga dioperasikan dengan ditarik lurus kedepan melalui
kedua sisinya atau ditarik menelusuri dasar perairan melalui salah satu sisinya
yang nantinya seakan membentuk seperti lingkaran dengan ujung sisi yang pertama
kali diturunkan sebagai pusat dengan tujuan untuk mendapatkan area cakupan
penangkapan seluas mungkin (sweeping trammel net) (Subani dan Barus,
1981). Operasi penangkapan
trammel net dilakukan pada pagi hari yaitu antara jam 06.00 sampai 16.00 WIB.
Dalam satu hari operasi penangkapan bisa mencapai 5 kali setting, lama dari setting sekitar 5 menit dan kecepatan kapal
mencapai 6-6,5 knot. Pada pengoperasian alat tangkap trammel net ini
menggunakan sistem aktif yaitu dalam pengoperasiannya kapal berputar 3600
dan melintang angin dan arus.
a. Cara Lurus
Cara ini adalah yang biasa dilakukan oleh para nelayan,
Jumlah lembaran jaring berkisar antara 10 – 25 tinting. Perahu yang digunakan
adalah perahu tanpa motor atau motor tempel, dengan tenaga kerja antara 3 – 4
orang. Pada cara ini Trammel net dioperasikan di dasar laut secara lurus dan
berdiri tegak. Setelah ditunggu selama 1/2 – 1 jam, kemudian dilakukan penarikan
dan penglepasan ikan atau udang yang tertangkap.
b. Cara Setengah Lingkaran
Pengoperasiannya
dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam (inboard motor) atau perahu
motor luat (outboard motor). Satu unit Trammel net dapat mengoperasikan jaring
60 – 80 tinting (lembar jaring) dengan tenaga kerja sebanyak 8 orang. Pada cara
ini Trammel net dioperasikan di dasar perairan dengan melingkarkan jaring
hingga membentuk setengah lingkaran. Kemudian ditarik ke kapal dan ikan &
udang yang tertangkap dilepaskan.
c. Cara Lingkaran
Pengoperasiannya
dilakukan dengan menggunakan perahu motor dalam seperti pada cara setengah
lingkaran. Caranya adalah dengan melingkarkan jaring di dasar perairan hingga
membentuk lingkaran. Setelah itu jaring ditarik ke kapal dan udang & ikan
yang tertangkap diambil.
2.2.1. Persiapan
Sebelum kapal berlayar ke fishing ground para ABK kapal melakukan persiapan terlebih
dahulu. Adapun persiapan yang dilakukan pada perikanan trammel net yaitu
mempersiapkan perbekalan (makanan dan minuman), pengisian es dan air tawar,
pengisian solar, oli atau minyak pelumas, pengecekan dan penataan alat tangkap,
pengontrolan mesin baik mesin penggerak utama maupun mesin bantu operasi
penangkapan seperti gardan, mempersiapkan lampu baik lampu navigasi maupun
lampu penerangan yang lain.
Selain
dari itu sebelum kapal berangkat harus dipersiapkan pula antara lain :
Ø Surat
Ijin Usaha Perikanan (SIUP).
Ø Surat
Ijin Kapal Perikanan (SIKP).
Ø Surat
Kecakapan/Ijazah Nahkoda.
Ø Pas
tahunan kapal penangkapan ikan.
Ø Surat
Kelaikan dan Pengawakan Kapal penangkap ikan.
2.2.2. Penurunan alat tangkap (setting)
Setelah kapal sampai di fishing ground maka kegiatan selanjutnya
adalah penurunan jaring. Setting ini diawali dengan :
Ø Pertama-tama
penurunan pelampung tanda (umbul-umbul).
Ø Dilanjutkan
dengan penurunan tali pelampung
sepanjang 50 m.
Ø Setelah
pelampung tanda menurunkan batu + 7 kg.
Ø Bersamaan
dengan badan jaring sebanyak 20 piece.
Ø Kemudian
diteruskan dengan penurunan danleno.
Ø Setelah
danleno dilanjutkan dengan penurunan tali selambar. Pada penurunan tali
selambar, ABK yang bertugas sudah siap menurunkan pemberat batu + 50 kg
karena pada jarak 20 m tali selambar tersebut terdapat pemberat batu sebesar +
50 kg.
Ø
Dan dilanjutkan lagi penurunan tali selambar
sepanjang 180 m sampai ke lambung haluan kapal.
2.2.3 Penyeretan Alat Tangkap (towing)
Setelah penurunan jaring
selesai, maka dilakukan towing yaitu
penyeretan alat tangkap didasar perairan setelah setting selesai dilakukan.
Proses towing disini dilakukan secara
berputar 3600 selama +2 jam dan kecepatan kapal yang semula 7
knot pada saat towing akan menjadi +1,5 knot.
2.2.4 Penarikan Alat Tangkap (hauling)
Setelah
kegiatan towing berlangsung selama +2 jam, maka selanjutnya dilakukan
penarikan jaring diawali dengan menarik tali selambar dengan menggunakan alat
bantu gardan. Proses dari penarikan jaring ini pertama-tama tali selambar
dilewatkan pada boulder lau ditarik
dengan menggunakan gardan, selama penarikan sepanjang 180 m, maka penarikan
dihentikan sejenak untuk melewatkan pemberat batu dari boulder . setelah batu melewati boulder,
maka penarikan dilanjutkan kembali dengan menggunakan gardan sampai munculnya danleno ke permukaan perairan, maka penarikan
dengan menggunakan gardan dihentikan diganti dengan manual menggunakan tenaga
manusia.
Penarikan
jaring dilakukan oleh 8 orang ABK. Tugas dari nahkoda saat penarikan jaring
dilakukan adalah mengendalikan kapal mengikuti ke mana arah jaring untuk meringankan
penarikan jaring yang dilakukan oleh ABK. Biasanya waktu yang diperlukan untuk
menarik jaring sekitar 0,5 jam jika tidak terdapat hambatan.
2.2.5 Penanganan Hasil Tangkapan
Penanganan hasil tangkapan dilakukan
setelah jaring terangkat semua ke atas dek, maka sebagian ABK mengeluarkan
hasil tangkapan dari jaring satu-persatu dan sebagian lagi melakukan setting
berikutnya. Biasanya setting dilakukan oleh 2 orang ABK dan nahkoda yang
mengatur penurunan jaring beserta arah dari penurunan jaring.
Setelah hasil tangkapan dikeluarkan
semua dari badan jaring, maka dilakukan penyortiran baik menurut jenis, ukuran,
dan kualitas. Kemudian hasil sortiran tersebut dicuci dengan menggunakan air
laut dan dimasukkan ke dalam tong lalu diberi es yang sudah dihancurkan (es
curah), kemudian dimasukkan ke dalam palkah. Kegiatan seperti ini memakan waktu
+ 1,5 jam.
2.3 Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
Daerah
penangkapan pada alat tangkap trammel net adalah perairan dimana pada perairan
tersebut banyak terdapat udang maupun ikan yang merupakan tujuan dari
penangkapan, biasanya daerah tersebut adalah perairan yang salinitasnya rendah
misalnya daerah-daerah perairan yang dekat muara sungai. Jika fishing ground yang baik dan
menguntungkan dalam usaha penangkapan telah ditemukan, maka faktor-faktor lain
juga harus diperhatikan misalnya jarak antara daerah penangkapan dengan
pangkalan pendaratan ikan (fishing base)
dan dari segi efisiensi usaha serta syarat-syarat perairan yang sesuai untuk
kehidupan jenis biota tertentu dan penggunaan alat penangkapan dengan kondisi
daerah penangkapan.
Daerah penangkapan
ikan (fishing ground) adalah suatu
daerah perairan tertentu yang terdapat jenis ikan tertentu, sebagai tempat
untuk mengadakan usaha penangkapan (Damanhuri, 1980).Suatu perairan dikatakan
daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan tertentu.
Persyaratan tersebut antara lain :
Ø Di
dalam perairan tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.
Ø Alat
tangkap dapat dioperasikan dengan mudah dan sempurna.
Ø Lokasi
tidak jauh dari pelabuhan (fishing base),
sehingga mudah dijangkau oleh kapal.
Ø Daerah
aman, tidak biasa dilalui oleh angin topan dan bukan daerah badai yang
membahayakan.
Ø Bukan
alur pelayaran.
2.4 Ikan Tujuan Penangkapan
Jenis
ikan tangkapan utama alat tangkap Trammel net adalah udang putih
1. Taksonomi dan Anatomi
Klasifikasi Udang Putih (Penaeaus marguensis) menurut Wikipedia (2010) adalah sebagi berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Peneidae
Genus : Peneaus
Spesies : Penaeus
marguensis
2.
Habitat udang putih Penaeaus marguensis
Udang putih hidup di semua
jenis habitat perairan dengan 89% di antaranya hidup di perairan laut, 10% di
perairan air tawar dan 1% di perairan terrestrial (Abele, 1982).
Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai
kemampuan terbatas dalam mentolerir perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya
hidup terbatas pada daerah terjauh dari estuaria yang umumnya mempunyai
salinitas 30‰ atau lebih. Kelompok yang mempunyai kemampuan untuk
mentolerir variasi penurunan salinitas sampai di bawah 30‰ hidup di
daerah terrestrial dan menembus hulu estuaria dengan tingkat kejauhan
bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies untuk mentolerir penurunan tingkat
salinitas. Kelompok terakhir adalah udang air tawar.
Udang dari kelompok ini
biasanya tidak dapat mentolerir salinitas di atas 5‰. Udang menempati
perairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai berpasir, berbatu ataupun
berlumpur. Spesies yang dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda
sesuai dengan kemampuan masing-masing spesies menyesuaikan diri dengan kondisi
fisik-kimia perairan (Nybakken, 1992).
3.
Penaeaus
marguensis
Daur hidup udang meliputi beberapa
tahapan yang membutuhkan habitat yang berbeda pada setiap tahapan. Udang
melakukan pemijahan di perairan yang relatif dalam. Setelah menetas, larvanya
yang bersifat planktonis terapung-apung dibawa arus, kemudian berenang mencari
air dengan salinitas rendah di sekitar pantai atau muara sungai. Di kawasan
pantai, larva udang tersebut berkembang. Menjelang dewasa, udang tersebut
berupaya kembali ke perairan yang lebih dalam dan memiliki tingkat salinitas
yang lebih tinggi, untuk kemudian memijah. Tahapan-tahapan tersebut berulang
untuk membentuk siklus hidup.
Udang Penaeid dalam pertumbuhan dan
perkembangannya mengalami beberapa fase, yaitu: nauplius, zoea, mysis, post
larva, juvenile (udang muda) dan udang dewasa (Fast & Lester, 1992). Daur
hidup udang dapat dilihat seperti pada Gambar , berikut:
4.
Kebiasaan
Makan Udang Putih Penaeaus
marguensis
Udang termasuk hewan omnivora (pemakan
segala) namun cenderung bersifat karnivora (pemakan daging), tetapi sifat
kanibal dari udang akan timbul bila terjadi kekurangan makanan atau makanan
yang tersedia mutunya rendah. Secara alami pemilihan terhadap jenis makanan
sangat bervariasi ini tergantung tingkatan umur udang yang bersangkutan. Pada
waktu masih burayak, makanan utamanya terdiri dari plankton-plankton nabati
contohnya Tetraselmis.
Pada tingkat mysis berupa plankton hewani,
pada saat udang dewasa suka makan daging, larva serangga, cacing-cacingan,
klekap dan detritus. Udang vaname mencari dan mengindentifikasi pakan bantuan menggunakan
sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri
daribulu-bulu halus (setae).
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Persyaratan Teknis
Trammel net adalah alat tangkap yang
termasuk bottom gill net (Nomura dan Yamazaki dalam Naddin 2000).
Konstruksinya terdiri dari tiga lembar jaring dengan mata jering kecil
tergantung bebas ditengah diantara dua jaring yang mempunyai ukuran mata jaring
lebih besar. Jaring lapisan luar ini (outter net) mempunyai ukuran mata
jaring sampai lima kali lebih besar daripada mata jaring sebelah dalam (inner
net).
Trammel net merupakan salah satu bottom gill
net yang sudah sangat maju dan dikhususkan untuk menangkap udang. Trammel
net merupakan jaring insang yang terdiri dari tiga lapis jaring. Satu lapis
bagian dalam (inner net) dan dua lapis bagian luar (outter net). Mesh
size jaring lapisan bagian dalam lebih kecil dari mesh size lapisan
luar. Pengoperasiannya dapat dilakukan setiap saat, namun pada musim-musim
tertentu alat ini sangat menonjol untuk penangkapan udang. Prinsip
pengoperasiannya berbeda-beda sesuai dengan kondisi perairan. Bisa dipasang
menetap dan membentang lurus memotong arus, atau jaring dipasang membentang
lurus kemudian ditarik dengan membentuk lingkaran dengan jalan menghela jaring
(Sudirman dan Mallawa, 2004).
Mengenai ukran dalamnya trammel net, tergantung
pada tujuan jaring tersebut akan dipergunakan untuk menangkap ikan di permukaan
atau di dasar. Trammel net untuk menangkap ikan dasar biasanya dibuat
tidak terlalu dalam, ada yang 4 meter atau 5 meterbahkan trammel net yang
bertujuan untuk menangkap udang hanya sedalam kurang lebih 2 meter dalam
keadaan tergantung (bukan dalam keadaan mata jaring tertutup). Trammel net yang
dipasang di perairan permukaan tujuannya adalah untuk menangkap udang.
Disamping itu jenis-jenis ikan dasar lainnyapun dapat juga tertangkap seperti
misalnya ikan manyung, ikan kepe, ikan cucut dan lain-lain (Usemahu dan
Leopold, 2004)
Menurut Atmaja (2010), trammel net adalah alat
penangkap ikan yang terdiri dari tiga dinding dengan bentuk segi empat. Dua
bagian outter net terletak disisi kiri dan kanan terbuat dari nylon
mono filament dan inner net (middle net) terbuat dari nylon
mono. Panjang net pada masing-masing bagian adalah 18 m dan lebar
1,5 m. Alat ini biasanya menggunakan empat bagian net. Trammel net
dioperasikan dengan membentangkannya diatas hamparan perairan secara vertikal,
kemudian ditarik ke arah perahu. Perahu bergerak kearah pelampung tanda yang
diturunkan pertama kali, selanjutnya berputar dua kali dan kemudian melakukan hauling.
Trammel net termasuk ke dalam kelompok entagled
net dimana konstruksinya berbeda dengan gill net. Berdasarkan
konstruksi, trammel net terdiri dua lapis jaring, jaring yang berada di
lapisan luar (outter net) terdiri dua lapis jaring dengan mata jaring
yang berukuran lebih besar, sedangkan jaring yang berukuran mata jaring lebih
kecil (inner net) terletak di antara keduanya. Umumnya ukuran mata
jaring outer net 4-5 kali lebih besar dari ukuran mata jaring bagian inner
net dan tinggi jaring dalam keadaan terentang dari inner net
berkisar antara 1-2 kali lebih besar dari bagian outer net. Fungsi inner
net pada trammel net adalah untuk menjerat hasil tangkapan,
sedangkan outer net berfungsi sebagai penguat inner net serta sebagai
kerangka untuk membentuk kantong pada trammel net saat inner net
menjerat hasil tangkapan (Ardiansyah, 2001)
3.2 Perhitungan
Diketahui:
- Inner net : Terbuat dari PA Ø 0,035 mm, Mesh size 5
cm, 1288♯
- Outter net : Terbuat dari PA Ø 0,07 mm, Mesh size 15
cm, 429♯
- Tali ris atas : Terbuat dari PE Ø 7 mm, Panjang 32 m
- Tali ris bawah : Terbuat dari PE Ø 3 mm, Panjang 32
m
- Tali pelampung : Terbuat dari PE Ø 5 mm, Panjang 32
m
- Tali pemberat : Terbuat dari PE Ø 3mm, Panjang 32 m
- Pelampung : Menggunakan Y-3 sebanyak 71 buah
- Pelampung tanda : Ø 300 mm sebanyak 2 buah
- Pemberat : Menggunakan pb 50gr sebanyak 142 buah
Inner net
Lo = n x m
= 1288# x 5
=
6440 cm
Lo
6440
6440
6439 = 6440 –32
= 6407
L = 6439 –6407
= 32 m
d = n . m √2S-S²
=
50 . 5 √2 . 0,6 - 0,6²
=
250 √1,2 – 0,36
=
250 √0,84
=
250 . 0,9
=
2,29 m
Outter net
Lo = n x m
=
429 x 15
=
6435 cm
Lo
6435
6435
6434 = 6434 – 32
= 6402
L =
6434 – 6402
=
32 m
d =
n . m √2S-S²
=
9 . 15 √2 . 0,3 – 0,3²
=
135 √0,6 – 0,09
=
135 √0,51
=
135 . 0,7
=
96,4 cm
\
Gaya Apung :
Tali ris atas : 1,2 kg x ( 0,08 ) = 0,096 kgf
Tali ris bawah : 0,7 kg x ( 0,08) = 0,056
kgf
Tali pelampung : 1 kg x ( 0,08 ) = 0,08 kgf
Tali pemberat : 0,7 kg x (-0,08) = - 0,056 kgf
Pelampung Y8 : 30 grf x 71 = 2130 grf = 2,13 kgf
Σ gaya apung : 2,13+(+ 0,08)+( + 0,056)+(+0,096) = 1,898
kgf
Gaya Tenggelam :
Pemberat : 7100 gr x 0,91 = 6461 grf = 6,461 kgf
Berat jaring secara keseluruhan
dapat ditentukan dengan rumus :
Berat
jaring tak bersimpul: W = H x Lo x R tex/1.000
Berat
jaring bersimpul: W = H x Lo x K x R Tex/1.000
Sedangkan
untuk perhitungan berat jaring pada alat tangkap trammel net
yaitu termasuk berat jaring bersimpul dengan perhitungan sebagai berikut
:
Dimana : W : Berat
jaring yang dihitung (gr)
H : Jumlah baris simpul (2x jumlah mata
arah vertical)
Lo : Panjang jaring dalam keadaan
tegang (m)
K : Faktor koreksi simpul jaring (pada
jaring yang bersimpul)
R
Tex : Ukuran benang jaring
Jaring inner net : W = H x Lo
x K x R Tex/1.000
= 2576 x 6440 x 1,025 x 23 /1.000
= 391.09 = 391.1gr
Jarring outer net : W = H x Lo x K x R Tex/1.000
= 858 x 6435 x 1,025 x 23 /1.000
= 130.162 = 130.15 gr
Σ gaya tenggelam :
6,461+(- 0,056) = 6,405 kgf
EXTRA BOUYANCY
TB
1,898
1,898
= - 2,37 x 100 %
= - 237 %
Jarak antar pelampung
(
Jumlah Pelampung – 1)
(71-1) 70
Jarak antar pemberat
(
Jumlah Pemberat – 1 )
(142-1) (141)
3.3 Alokasi Kebutuhan Bahan
|
No
|
Bagian
jaring
|
Bahan
|
Ukuran mata jaring
|
Panjang
(L) (m)
|
Ø benang (mm)
|
Panjang
(Lo) (m)
|
|
1.
2.
|
Inner
net
Outter
net
|
Polyamide
Polyamide
|
5 cm
15 cm
|
32
32
|
0,035
0,07
|
64,3
64,3
|
|
No
|
Jenis Tali
|
Bahan
|
Ø (mm)
|
Panjang (m)
|
Berat tali (Kg)
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Tali Ris atas
Tali Ris bawah
Tali Pelampung
Tali Pemberat
|
Polyethylene
Polyethylene
Polyethylene
Polyethylene
|
7 mm
3 mm
5 mm
3 mm
|
32 m
32 m
32 m
32 m
|
1,2
0,7
1
0,7
|
|
|
TOTAL
|
X
|
X
|
X
|
3,6
|
|
No
|
Bagian dari Alat
|
Bahan
|
Jenis
|
Jumlah Satuan
|
Berat/Buah (gr)
|
Berat (kg)
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Pelampung
Pelampung tanda
Pemberat
Jangkar
|
PVC
Timah hitam
|
Y-3
Timah hitam
Fe
|
71
2
142
2
|
13 gr
50 gr
10.000 gr
|
0,9
7,1
20
|
|
|
TOTAL
|
X
|
X
|
X
|
X
|
28
|
3.4 Desain Alat Tangkap
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Trammel net yang dioperasikan
memiliki ciri khusus terdiri dari tiga lapis jaring dan alat tangkap ini sangat
efektif untuk menangkap udang. Udang maupun ikan yang tertangkap yaitu dengan
cara terjerat (gillet) maupun terbelit (entanglet).
Faktor
yang menunjang keberhasilan pengoperasian alat tangkap trammel net adalah
keberadaan udang yang menjadi tujuan penangkapan dan daerah penangkapan yang
sesuai dengan alat tangkap trammel net yaitu dasar perairan tidak berkarang,
bebas dari tonggak, gelombang tidak besar, dasar perairan landai dan bukan
merupakan daerah alur pelayaran.
4.2 Saran
Alat tangkap trammel net tersebut dioperasikan di dasar perairan, sehingga
pada saat trammel net diturunkan, nahkoda sudah mengetahui tekstur dasar
perairan untuk menghindari jaring rusak atau putus karena tersangkut pada
karang atau kayu besar yang tenggelam didasar perairan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1989/1990.
Trammel Net. Pemerintah Tingkat I Sumatera Utara. Proyek Intensifikasi Produksi
Pertanian. Medan.
Anonymous. 2000. Teknnik
Penangkapan Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan. SPP-SUPM Negeri Tegal. Jawa
Tengah.
Bambang. 1998. Sumber
Daya Udang Panaeid dan Krustacea Lainnya. Komisi nasional Pengkaji Stok Sumberdaya
ikan Laut Lembaga Ilmu pengetahuan Dunia.
Damanhuri. 1980. Diktat
Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan, Universitas
Brawijaya. Malang.
Usemahu, A.R. 2003.
Teknik Penangkapan Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Pusat Pendidikan
dan Pelatihan Perikanan, 2003.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar